Contoh Teks Kuliah Ilmiah Agama Islam Pendek tentang Etika Kerja dalam Al-Qur’an dan Hadis

By | 11 Juli 2017

Dalam risalah yang berisi panduan hidup lengkap dan lurus ada juga etos kerja, berupa bimbingan dan bimbingan dalam bekerja sehingga karyanya berhasil dan berkah. Etos kerja yang berasal dari Tuhan Pencipta dan Tuhan semesta alam adalah yang paling tepat dan benar, karena tidak ada keahlian dan susunan makhluk yang bisa mencocokkannya. [1]

Dalam ceramah agama ilmiah ini akan dibahas tentang etika kerja di dalam Al Qur’an. Banyak ayat Alquran menggambarkan etos kerja. Etos kerja untuk seorang Muslim akan berbeda dari orang-orang dari agama yang berbeda. Seperti yang tercantum dalam Surat Al-Mujadilah, Al-Jumu’ah, Al-Mulk dan sebagainya.

Etos berasal dari kata Yunani, bisa berarti sesuatu yang diyakini, bagaimana melakukan, sikap dan persepsi nilai pekerjaan. Dari kata ini terlahir apa yang disebut “etika” yaitu tuntunan, moral dan tingkah laku, atau juga etiket yang dikenal dengan sopan santun. Jadi arti etos adalah norma dan cara untuk melihat, melihat, dan mempercayai sesuatu. [2] Ada beberapa definisi etos menurut angka sebagai berikut:

A. Menurut Geertz, etos adalah sikap dasar manusia terhadap diri dan kehidupan dunia.

B. Soerjono Soekanto menafsirkan etos antara lain, nilai dan gagasan budaya, atau karakter umum suatu budaya

C. Nurcholis Madjid, etos berasal dari bahasa Yunani (ethos), yang berarti karakter atau karakter. Etos adalah karakter dan sikap, kebiasaan dan kepercayaan secara hukum dan sebagainya yang khas tentang individu atau sekelompok orang. Dan dari kata ethos juga mengambil kata “etika” yang mengacu pada arti “moral” atau sifat akhlaqiy, yaitu kualitas esensial seseorang atau sekelompok orang termasuk bangsa.

D. Musya Asy’arie menjelaskan kata ethos dapat dikaitkan dengan inidividu selain berhubungan dengan masyarakat. [3]

Sedangkan kata “kerja” itu sendiri didefinisikan sebagai kegiatan untuk melakukan sesuatu; Sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah; Mata pencaharian. [4] Islam mengatur setiap masalah, termasuk memenuhi kebutuhan hidup (pekerjaan), dengan prinsip agama (religiusitas). Islam juga mengintegrasikan semua nilai material dan spiritual ke dalam keseimbangan keseluruhan agar lebih mudah bagi manusia untuk menjalani kehidupan yang telah ditentukan oleh belas kasihan dan kasih sayang Tuhan di akhirat. [5]

Yang dimaksud dengan pekerjaan adalah semua usaha maksimal yang dilakukan oleh manusia, baik melalui gerak tubuh maupun intelek untuk menambah kekayaan, baik dilakukan secara individu maupun kolektif, baik untuk pribadi maupun untuk orang lain (dengan menerima gaji). [6]

Pentingnya bekerja untuk seorang Muslim adalah usaha yang tulus, mencurahkan semua aset, pemikiran, dan zikirnya untuk mengaktualisasikan atau mewujudkan dirinya sebagai pelayan Tuhan yang harus menundukkan dunia dan menempatkan dirinya sebagai bagian dari masyarakat terbaik (khoiro ummah) atau Dengan kata lain juga bisa dikatakan bahwa hanya dengan tenaga manusia yang memanusiawikan dirinya sendiri. [7]

Dari beberapa definisi dan penjelasan di atas, etika kerja didefinisikan sebagai karakter dan kebiasaan mengenai pekerjaan yang berasal dari sikap dasar manusia terhadapnya. [8]

Pengertian Kerja Menurut Perspektif Al-Qur’an
Dalam hubungan ini, Alquran banyak berbicara tentang aqidah dan iman yang diikuti oleh ayat-ayat tentang pekerjaan, di bagian lain dari ayat tentang pekerjaan itu terkait dengan masalah manfaat, terkadang dikaitkan dengan hukuman dan penghargaan di dunia. Dan di akhirat. Alquran juga menggambarkan kerja sebagai etos kerja positif dan negatif. Di dalam Al-Qur’an banyak ayat telah ditemukan di keseluruhan karya sebanyak 602 kata, bentuknya:

A. Kami menemukan 22 kata ‘amilu (pekerjaan) dalam surat al-Baqarah: 62, an-Nahl: 97, dan al-Mukminun: 40.
B. Kata ‘amal (perbuatan) kita bertemu 17 kali, di tangan Hud: 46, dan al-Fathir: 10.
C. Kata wa’amiluu (yang telah mereka lakukan) kita bertemu 73 kali, al-Ahqaf: 19 dan an-Nur: 55.
D. Ta’malun dan Ya’munun mengatakan di al-Ahqaf: 90, Hud: 92.
E. Kami menemukan sebanyak 330 kali kata a’maaluhum, a’maluka, ‘amaluhu,’ amalikum, ‘amaluhum,’ aamul dan amullah. Di antara mereka ada di Hud: 15, al-Kahfi: 102, Yunus: 41, Zumar: 65, Fathir: 8, dan at-Tur: 21.
F. Ada 27 kata ya’mal, ‘amiluun,’ amilahu, ta’mal, a’malu seperti dalam surat al-Zalzalah: 7, Yasin: 35, dan al-Ahzab: 31. [9]

Komponen Dasar Etika Kerja dalam Agama Islam
A. Iman dan Taqwa

Di dalam Alquran banyak ayat yang mengandung taqwa manganjurkan dalam setiap hal dan pekerjaan. Ayat-ayat tentang iman selalu diikuti oleh ayat-ayat pekerjaan, dan sebaliknya. Ayat-ayat seperti “orang percaya” diikuti oleh ayat “dan orang-orang yang melakukan perbuatan baik”. Keterkaitan ayat-ayat ini memberikan pemahaman taqwa yang merupakan dasar utama etos kerja, terlepas dari bentuk dan jenis pekerjaannya, maka taqwa adalah tuntunannya.

Perlu dijelaskan disini karena pekerjaan memiliki etos untuk disertakan di dalamnya, karena pekerjaan adalah bukti iman dan parameter untuk penghargaan dan hukuman. Pekerja harus dapat memperbaiki tujuan akhir dari pekerjaan mereka, dalam arti bahwa bukan merupakan penghidupan untuk mencari upah dan penghargaan, karena tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan ridha Allah dan pada saat yang sama kepada orang-orang. Etika kerja disertai pengabdian adalah tuntunan Islam. Begitu banyak aktivitas Muslim tidak lepas dari nilai iman.

B. Niat
Pembahasan pandangan Islam tentang etos kerja dapat dimulai dengan usaha simultan sedalam kata-kata Nabi yang ada dalam bentuk pekerjaan tergantung pada niat pelaku, jika tujuannya adalah untuk mencari persetujuan Allah maka dia akan mendapatkan nilai kerja yang tinggi. , Dan jika tujuannya hanya untuk mendapatkan simpati, maka dia akan mendapatkan skor rendah.

Niat atau komitmen ini adalah keputusan dan pilihan pribadi, dan saling keterikatan antara nilai moral dan spiritual dalam pekerjaan. Karena nilai moral dan spiritual bersumber dari Tuhan dengan persetujuanNya, maka keseluruhan keseluruhan pekerjaan dilakukan dengan tujuan ridha ridha. Oleh karena itu, bisa dipastikan bahwa pekerjaan yang dilakukan tanpa tujuan mulia yang terpusat pada usaha mencapai berkat Tuhan atas dasar iman tidak ada apa-apanya. [10]