Karakteristik Etos Kerja Islam

By | 11 Juli 2017

1. Pekerjaan Adalah Terjemahan Aqidah

Manusia adalah makhluk yang dikendalikan oleh sesuatu yang masuk ke dalam dirinya sendiri, bukan oleh fisik yang terlihat. Ia dipengaruhi dan diarahkan oleh keyakinan yang mengikatnya. Faktor religius bukanlah persyaratan bagi etika kerja seseorang yang tinggi. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya orang non-beriman yang memiliki etos kerja yang baik. Namun ajaran agama merupakan salah satu faktor yang bisa menjadi penyebab munculnya pandangan kepercayaan dan sikap hidup dasar yang menyebabkan tingginya manuskrip manusianya.

2. Bekerja Berdasarkan Ilmu

Konsekuensi dari Islam sebagai agama sains dan amal (termasuk pekerjaan) mengharuskan umat Islam untuk selalu mengupayakan perbaikan dan kesetaraan keduanya dengan sungguh-sungguh.

A. Bahwa sumber ilmu pengetahuan yang mendasari etika kerja Islam adalah wahyu dan keteraturan hukum alam (hasil penelitian akal)

B. Bahwa ilmu ‘aqliy, seperti yang diwahyukan, dalam Islam dipandang sangat penting dan menempati posisi yang sangat tinggi dengan iman.

C. Bahwa proses perolehan ilmu ‘aqliy berasal dari keteraturan hukum alam (sunatullah atau penentuan takdir yang mungkin diketahui secara obyektif). Pemahaman itu memperkuat iman dan mendidik umat Islam yang peduli untuk bekerja secara etis, ilmiah, proaktif, disiplin, dan sebagainya.

3. Bekerja dengan Mencontohkan Atribut Ilahi dan Mengikuti Petunjuknya

Keistimewaan orang beretos yang bekerja dalam kegiatan islam dijiwai oleh dinamika aqidah dan motivasi ibadah. Orang-orang yang memiliki etika kerja Islam menyadari bahwa potensi yang dikabulkan dan dapat dikaitkan dengan atribut ilahi pada dasarnya adalah kepercayaan yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya secara bertanggung jawab sesuai dengan ajaran (Islam) yang dia percaya. Ayat-ayat Al Qur’an ‘ Dan hadits Nabi banyak yang memerintahkan atau mengajarkan bahwa umat Islam aktif dan aktif dalam pekerjaan. Artinya, bagi mereka untuk secara aktif memanfaatkan potensi yang ada di dalamnya, sekaligus memanfaatkan alam sunatullah. [11]

Motivasi Kerja Muslim dalam Al Qur’an dan Hadis
1. Dalam pandangan Nabi ada perbedaan sejati antara bekerja tanpa pengetahuan dengan bekerja dengan sains. Menurut Rasulullah “sedikit kerja tapi berdasarkan sains akan produktif sementara banyak kerja dengan dasar ketidaktahuan hasilnya kurang produktif. Ini adalah kritik sekaligus peringatan dari Rasulullah kepada umat Islam untuk memperbaiki sains dan teknologi. Sehingga produktivitas dan kreativitas bisa meningkat.

2. Islam bukanlah agama pertapa. Islam mengajarkan kita untuk mengaktualisasikan nilai-nilai iman dalam bentuk amal, pekerjaan, atau perbuatan.

3. Alquran sendiri menyatakan bahwa salah satu kewajiban manusia di bumi adalah untuk mencari anugerah Tuhan di seluruh bumi. Pemberian atau rezeki Tuhan dapat diperoleh saat kita membuat sebuah proklamasi, usaha, atau perjalanan ke seluruh bumi.

4. Tidak semua perbuatan penyembahan bisa dipecahkan hanya dengan hati dan perbuatan. Namun, ada sejumlah praktik Islam yang perlu didukung oleh kekayaan dan kekayaan. Untuk ziarah kita butuh biaya keberangkatan dan hidup. Zakat membutuhkan kekayaan yang mencapai nishab-nya. Begitu juga yang lainnya. Dengan kata lain, ada sejumlah praktik Islam yang hanya bisa dilakukan jika kita memiliki beberapa harta karun.

5. Salah satu karakteristik orang yang hidup di zaman modern adalah mereka memiliki kemampuan untuk berbagi waktu.

6. Allah dan para Rasul dan orang-orang yang beriman sama sekali, secara psikologis mendukung dan memperhatikan pekerjaan setiap Muslim. [12] Sebagaimana dijelaskan dalam Surah At-Tawbah ayat 105