Sahur setelah Adzan Fajar karena kesibukan

By | 11 Juli 2017

Saat puasa Ramadhan, umat Islam menyambutnya dengan antusias sehingga rangkaian kegiatan yang terkait dengan Ramadhan jadi terasa ringan dieksekusi. Padahal tidak jadi saat di luar bulan Ramadhan. Salah satu ibadah tersebut adalah suh sahur yang dilakukan sebelum fajar shadiq. Anggota keluarga sibuk menyiapkan makanan dan bangun satu sama lain untuk segera melakukan makanan agar terhindar dari ketinggalan waktu.
Meski begitu, kita sering menjumpai atau bahkan mengalami oversleeping saat akan makan sahur. Sampai sebelum makan, seruan untuk sholat selesai. Lalu bagaimana hukum makanan yang dilakukan saat panggilan untuk sholat? Berikut adalah diskusi singkat.

Sehubungan dengan batas waktu makan, ayat-ayat Alquran dan beberapa riwayat berikut akan menjadi subjeknya.

Allah SWT berfirman:

وكلوا واشربوا حتى يتبين لكم الخيط الأبيض من الخيط الأسود من الفجر ثم أتموا الصيام إلى الليل
“Dan makanlah minuman untuk cahaya benang putih benang hitammu, yaitu fajar. Kemudian selesaikan puasa sampai malam (datang).” (Surat al-Baqarah: 187).

Sahur setelah Adzan Fajar karena tidur nyenyak
Ayat ini menunjukkan bahwa makan minuman (sahur) masih diperbolehkan untuk clear / light (tabayyun) sehingga fajar telah datang. (Yusuf Al-Qaradawi, Fiqh ash-Shiyam, hal 101; Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, al-Jami ‘li Ahkam al-Shiyam, hal 77; Wahbah az-Zuhaili, At-Tafsir Al-Munir, 2/153) . Dengan kalimat lain, standarnya adalah bahwa fajar shadiq telah meningkat, bukan hanya panggilan untuk sholat subuh. Apalagi kalau muazin hanya berdasarkan jadwal yang telah didaftar tanpa melihat tanda-tanda fajar shadiq. Ciri fajar shadiq ditunjukkan oleh adanya cahaya putih yang menyebar dan meluas di cakrawala dan tidak hanya cahaya putih tipis yang membentang dari cakrawala ke langit. Karena Dawn secara harfiah berarti kombinasi warna putih dan kemerahan sehingga orang yang warnanya putih dan kemerahan disebut Asbah (أصبح) (lihat al-Mughni I / 232). Secara lebih rinci, Syaikh Muhammad bin Salih al-‘Utsaimin (lihat ash-Sharh al-Mumthi ‘, II / 107-108) menjelaskan perbedaan antara fajar Sadiq dan kazib sebagai berikut:

Pertama, fajar pertama (kadzib) meluas dari cakrawala ke puncak sedangkan dadi sadiq menyebar di cakrawala (timur).

Kedua, Cahaya yang muncul saat fajar kazib bersifat sementara dan kemudian gelap lagi. Sementara fajar sadiq tidak gelap bahkan cahaya terang.

Ketiga, fajar sadiq menyatu dengan cakrawala; Antara terang fajar dan cakrawala (Timur) tidak ada kegelapan. Sedangkan cahaya kadzib fajar terputus / lenyap dari cakrawala.

Jika Anda melihat cakrawala (Timur) dimulai pada akhir malam ketiga (mulai dari pukul 03:00 GMT), Anda akan menemukan kazib cahaya yang bersinar memanjang dari cakrawala bawak menuju langit, berbentuk seperti ekor atau pasak. . Sementara sinar shadiq fajar menyingsing dari cakrawala dan tidak mengalami redup. Bahkan lebih cerah sampai matahari terbit. Inilah makna hadis Rasulallah melihat:

عن محمد بن عبد الرحمن بن ثوبان قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم الفجر فجران فأما الفجر الذي يكون كذنب السرحان فلا يحل الصلاة ولا يحرم الطعام وأما الذي يذهب مستطيلا في الأفق فإنه يحل الصلاة ويحرم الطعام
“Dari Muhammad bin Abdurrahman bin Tsauban, dia berkata,” Rasulullah saw. Bersabda, “Ada dua fajar. Fajar yang berbentuk seperti ekor serigala (fajar kazib) tidak mengizinkan (mengijinkan) shalat (sunnah fajar) dan tidak melarang makan dan Minum (sahur) Fajar yang terbit di cakrawala, maka itu membenarkan doa dan melarang makan dan minum ‘(Dilaporkan oleh al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak no 688, ad-Daruquthni no 1053, al-Bayhaqi Di al-Sunan al-Kubra no 1765. Dianggap oleh Syaikh al-Albani di Sahih al-Jami ‘no 4278). “

حدثنا محمد بن عيسى حدثنا ملازم بن عمرو عن عبد الله بن النعمان حدثني قيس بن طلق عن أبيه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم كلوا واشربوا ولا يهيدنكم الساطع المصعد فكلوا واشربوا حتى يعترض لكم الأحمر
“Muhammad bin Isa telah memberi tahu kami, Mulazim bin ‘Amr telah memberi tahu kami, dari Abdullah bin an-Nu’man bin Qais Thalaq telah mengatakan kepada saya tentang ayahnya dia berkata, Rasul Allah SWT berfirman:’ Makanlah dan minumlah, dan jangan (Terang) naik di jalanmu Makan dan minum sampai merah (terang) merah (HR Abu Dawud no 2348. Hasan dinilai oleh Syaikh Shu’aib al-Arnauth). “