Terakhir Adzan Bilal ibn Rabbah

By | 22 September 2017

Karena Rasulullah SAW meninggal, Sahabat Bilal bin Rabbah menyatakan bahwa dia tidak akan memanggil seruan untuk sholat lagi.

Ketika Khalifah Abu Bakr memintanya untuk menjadi seorang muadzin lagi, Bilal dengan sedih berkata, “Biarlah aku menjadi muadzin Rasulullah, Nabi telah pergi, maka aku bukan lagi muazin.”

Abu Bakr tidak bisa lagi mendesak Bilal untuk kembali memanggil sholat.

Kesedihan meninggalkan korban tewas oleh Rasulullah terus berlanjut di hati Bilal. Dan kesedihan yang mendorongnya untuk meninggalkan Madinah, dia dan rombongan Fath Islamy berangkat ke Syam, dan kemudian tinggal di Homs, Syria.

Bilal tidak pernah ke Madinah untuk sementara waktu, sampai suatu malam, Rasulullah hadir dalam mimpi Bilal, dan menegurnya: “Bilal, Wa maa hadzal jafa,” Bilal, kenapa kamu tidak mengunjungiku?

Bilal sudah bangun, dia segera menyiapkan perjalanan ke Madinah untuk berziarah ke makam Nabi. Selama bertahun-tahun dia telah meninggalkan Rasulullah. Sesampainya di Madinah, Bilal terisak-isak sedan dari kerinduannya akan Rasulullah, kepada Yang Tercinta.

Saat itu, dua pemuda yang sudah dewasa mendekatinya. Keduanya adalah cucu Rasulullah Hasan dan Hussein. Dengan matanya terengah-engah oleh air mata, Bilal semakin tua dan bahkan memeluk kedua cucu Nabi.

Salah satu dari mereka berkata kepada Bilal, “Paman, maukah kamu memanggil panggilan untuk sholat untuk kami? Kami ingin mengingat kakek kami.”

Pada saat itu, Umar bin Khattab, yang pada waktu itu telah menjadi Khalifah juga melihat pemandangan yang menyentuh, dan dia juga memohon kepada Bilal untuk menggemakan seruan untuk shalat, bahkan sekali pun.

Bilal memenuhi permintaan tersebut.

Ketika saat sholat tiba, dia naik ke tempat di mana dia biasa digunakan untuk sholat pada saat Rasulullah hidup.

Dia mulai membaca seruan untuk sholat.

Ketika lafadz Allahu Akbar diucapkan olehnya, tiba-tiba seluruh Medina terdiam, semua aktivitas berhenti, semua terkejut, suara yang telah hilang selama bertahun-tahun, sebuah suara yang mengingatkan pada sosok Nan Agung, suara yang sangat mendambakannya telah kembali

Ketika Bilal meneriakkan ‘Asyhadu alaa ilaha illallah’, seluruh kota Madinah berlari menuju suara sambil berteriak, bahkan gadis-gadis di pengasingan mereka pun keluar.

Dan ketika bilal menggemakan ‘Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah’, Madinah diliputi oleh air mata dan ratapan yang sangat menyedihkan. Semua menangis, mengingat saat-saat indah dengan Rasulullah, Umar bin Khattab adalah air mata yang paling keras. Bahkan Bilal sendiri pun tak mampu melanjutkan adzannya, lidahnya tertangkap oleh air mata yang berberai. Hari itu madina mengingat saat masih ada Rasulullah di antara mereka.

Hari itu adalah panggilan pertama dan terakhir untuk Bilal setelah wafatnya Nabi. Adhan yang telah mempublikasikan rasa kerinduan masyarakat Madinah kepada Nabi. Adzan itu belum bisa selesai.